Langsung ke konten utama

Postingan

Mengulang Ingatan: Part 2 Berbagi dan proses menaikkan Level Kepercayaan Diri

EPIC SHARING SESSION 1 Di entry sebelumnya telah kuceritakan bagaimana sebuah program Pre-service English Teacher yang di organised oleh Regional English Language Office (RELO) U.S Embassy mampu mengubah banyak hal dari seorang Ige. Meski pada dasarnya, telah banyak pengalaman hidup yang menerpa. Tapi tidak sedikit hal positif yang bisa diambil dari satu program ini, khususnya bagaimana menaikkan satu level kepercayaan diri untuk mengeksplor kemampuan mengajar yang jauh lebih baik. Juga, lebih yakin untuk berbagi pengalaman dan strategi mengajar dengan sesama pengajar. Satu batu loncatan, hingga kesempatan-kesempatan lain berdatangan: meski tak jauh-jauh dari background pendidikan (English Education Department), teaching and Traveling; berkunjung ke daerah-daerah memenuhi undangan instansi atau sekolah, sekedar mengajar atau memotivasi untuk lebih mencintai bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan. Adjucating, atau menjadi tim penasihat sebuah even ko...

Mengulang Ingatan: Masih Lanjutan Part 1

Berawal dari menjadi bagian dari duta kampus masa itu, akhirnya level kepercayaan diriku meningkat meski tak banyak. Sekali lagi, aku patut berterima kasih kepada masa lalu dan orang-orang yang mendukung di dalamnya. Terkhusus, @Nurul Suciana Adam teman seperjuangan kala itu, sekaligus sebagai pemeran tambahan part 1 yang tidak kusebutkan namanya. Juga, terima kasih kepada siapa saja yang ikut andil, ikut campur atau ikut-ikutan dalam skenario masa kuliahku. Bukan persoalan siapa yang terus menyerukan kebaikan, melainkan juga tentang kejelekan yang melahirkan banyak kebaikan-kebaikan. Sebab aku pernah tak bijak dalam mengambil keputusan dan tindakan (bahkan sering), masuk dalam dunia baru yang aku sendiri tak tahu menahu jalan keluarnya, juga mencipta zona baru dalam hidup oranglain sedang aku tak pandai mengoptimalkannya kembali. Sebaliknya, lari dari kenyataan sebenar-benarnya yang secara sadar aku sendiri yang telah memulainya. Atau bahkan, dikait-kaitkan persoalan yang tidak pern...

Mengulang Ingatan: Lanjutan Part 1

Tak hanya media kampus dan segudang cerita di dalamnya. Event kampus, antar kampus, nasional dan internasional mulai menggiurkan planning kuliahku. 2013 lalu, pertama kali ku putuskan untuk hidup kos-kosan. Sebelumnya stay di rumah keluarga, namun karena aktivitas yang mulai muncah padat dan kurang nyaman pulang larut malam dari kampus, akhirnya ku putuskan menerima tawaran teman kelas yang kebetulan (juga) adalah kawan di salahsatu lembaga yang sama. Aktivitas kami pun kurang lebih hampir sama tiap harinya, kuliah-organisasi intra A-organisasi intra B dan masih banyak lagi yang memungkinkan kita kemana-mana barengan saja. Alasan itu, kuputuskan untuk hidup kosan dan menjalani hari-hari yang kian menantang. Tantangan pertama yang dihadapkan adalah aku dan gadis sidrap ini harus beradaptasi dengan karakter 180 derajat beda. Aku yang sadar penuh OCD ini malah dipertemukan dengan satu gadis yang benar-benar menyebalkan tiap harinya. Tapi, lagi-lagi keputusanku telah bulat, prinsipk...

Ige Naya: Dear Masa Lalu

Warning:  Petunjuk pertama dalam membaca tulisan ini adalah gunakan hatimu bukan pikirmu! Dear Masa lalu, Kenalin Aku Ige, lengkapnya Ige Naya. Satu nama yang diadobsi dari Bahasa Korea yang berarti Inilah Aku. Aku mengenali diriku sebebas penilaian oranglain terhadapku. Maksudku, tak peduli tiap digit penilaian orang-orang tentangku, semua termasuk penilaian pembaca setelah membaca tulisan ini. Ini hakku dan bukan hakmu. Tulislah kisahmu sendiri dengan penamu, jangan penaku sebab ini karyaku bukan karyamu. Terserah, mungkin akan ada yang mencemoh, menggunjing, memuji, mengiyakan kebenaran atau tak menyangka akan kenyataan yang ada. Namun beginilah Aku, sesuai tolok-ukurku terhadap diri sendiri dan bukan penilaian oranglain, apalagi penilaianmu. Ini bab pertama, wajar saja jika kau kebingungan dan bertanya-tanya. Pembahasanku entah apa dan mulai darimana bergantung dari jemari dan rasa yang mengalir entah kemana. Namun satu hal yang ingin ku tegaskan pada bab ini a...

Asal Kau Tak Kehilangan Harapan

24 Januari 2017, kurang empat hari dari tanggal ulang tahunku, tapi rasanya seperti dapat surprise duluan. Dua hari yang lalu, aku duduk dengan posisi kaki bersentuhan dengan tulang ekor dan menengadahkan wajah ke langit senja tepat di beranda rumah. Saat itu aku tak sendiri, ada ayah dan ibu yang begitu siap mendengarkan keluhanku. Mungkin air muka ku menyimpan kesedihan yang begitu mudah ditangkap mata. Hanya selang empat hari, setelah pamit ke kota Makassar untuk menghabiskan waktu berburu tanda tangan; rekomendasi dan surat keterangan berkelakuan baik di Fakultas tempatku menyelesaikan studi strata satu. Namun, aku memilih kembali ke kampung sesegera mungkin, sebab keraguan menggeluguti isi kepalaku. Mungkin satu alasan pastinya karena Krisis keuangan . Disatu sisi, aku begitu menggebu-gebu melanjutkan studi strata dua di kota sendiri, tapi di sisi lain aku sendiri tidak punya dana pribadi untuk melanjutkan studi dengan pembiayaan mandiri. Mengingat aku yang lahir dari ke...

Ige Naya: Cinta Tak Sesederhana, hangatkan Cappucino

Jam terus berlarian di tangan. Sekarang sudah pukul 17.30. Sebentar lagi matahari akan bersembunyi dan burung perkicau akan kembali ke peraduannya. Sementara aku masih saja menikmati tiap tegukan es kelapa muda buatan Daeng Sanrang. Penjual es kelapa muda di pinggir jalan Hertasning menuju kampus dua, Samata. Aku menganggap ini es kelapa muda terbaik. Mungkin saja seleraku yang terlalu rendah atau mungkin karena aku memang belum pernah mencoba mangkir di tempat lain. Sudahlah, tak ada waktu untuk sekedar membahas itu. Sekarang sudah pukul 17.45 sebentar lagi senja akan menutup tirainya. Mungkin lebih baik jika ku hentikan saja tegukanku. Tapi bagaimana dengan es kelapa muda yang baru saja ku pesan. “Pesanan tadi dibungkus saja, Dek?” Aku masih kebingungan mencari jawaban tepat untuk pertanyaan sesederhana itu. “Mau dibungkus atau dimakan disini?” Lagi-lagi dengan pertanyaan yang sama. Ia menatap dengan garis lurus, tepat mengenai retina mataku. Aku malah tidak nyaman. Sebentar...

Tuhan Hebat dalam Skenarionya

Siang tadi. Bersama Suci, gadis yang sering ku sebut katimbang, mengendarai motor dibawah terik mentari yang semakin ganas saja. Kisaran 10 KM dari Samata, Gowa, 40 menit menuju Perintis, Makassar. berjemur ala bule yang bermimpi punya kulit eksotis, tapi kali ini saya menyebutnya "kulit erotis". Bagaimana tidak? Baju yang ku kenakan berlengan panjang tanpa menutupi pergelangan tangan. Ah! Belanglah jadinya. Sudahlah. Setidaknya terbayarkan dengan kue donat mungil-mungil diatas meja yang disajikan kakak Nuru, sepupu Suci. Ditambah lagi kesegaran air es dari lemari pendingin baru saja. Benar-benar nikmat yang tak tertandingi. Belum juga habis, datang hidangan makan siang, tapi saya menyebutnya "Break-lunch" soalnya belum sempat sarapan udah "GO" ke Perintis. Alhasil, ku telan pelan-pelan meski cacing di perut sudah meraung-raung seperti kucing kelaparan. Berharap lambung merasa tak terganggu, setidaknya perut saya tidak "takbangka pagi menjelang siang...