Memilih milih teman itu boleh. Yang ngga boleh itu, memilih milih berbuat baik ke orang. Kenapa? Karena karaktermu bergantung dengan siapa lingkunganmu. Kalau bergaul dengan orang yang ngga bener, ya kecipratan juga ngga benernya. Kecuali kalau kamu udah bisa mastiin orang disekitarmu adalah orang yang baik. Dan akan memberi pengaruh baik. Atau, kamu udah bener-bener baik untuk menjadi orang yang berpengaruh baik di lingkunganmu. But, who knows? Kita manusia biasa, banyak khilafnya. Jadi, perlu ada batasan. Jangan semua dijadiin temen. Maaf. Saya berani bilang gini karena pengalaman yang mengajarkan. Bahwa ngga semua orang adalah baik dan memberi pengaruh baik untuk kita. Jadi fokus saja berbuat baik semampunya, dan menjadi lebih baiklah dari hari hari sebelumnya.
Mengawali tahun 2020 dan meluruskan niat ikut suami di tanah rantauan. Meninggalkan kesibukan yang telah lama ku geluti, sebagai pengajar Bahasa Inggris di salahsatu Universitas Islam Negeri di Indonesia Timur. Juga, sebagai translator sekaligus guide tamu penting di kampus merah, Sulawesi Selatan. Ku tuntaskan satu semester dan ku tinggalkan dengan baik semua kewajiban yang sudah ku mulai sejak lama. Tentu saja dengan tujuan yang sama "Mencari keridhoan-Nya." Terlebih sejak september 2019 statusku telah berubah menjadi istri seorang lelaki pilihan hatiku sendiri. MasyaAllah tabarakallah. Selang beberapa waktu setelah ku tinggalkan tanah kelahiran dan menjalani hari demi hari di tanah rantau, dikabarkan munculnya wabah/virus mematikan bernamakan COVID-19. Sontak seluruh masyarakat dunia digegerkan seiring banyaknya korban berjatuhan. Sempat juga, kami dibuat panik hingga mengurung diri dan sangat membatasi diri berinteraksi. Yang awalnya banyak aktivitas offline, seketika d...