Langsung ke konten utama

Postingan

Semua Mudah Buka Usaha

Sebagai perempuan yang ditakdirkan menjadi pendamping lelaki yang mengabdi untuk negara, sedia mengikut pola mutasi kapan saja. Tentu menjadi tantangan tersendiri, terlebih saya adalah tipikal perempuan yang sudah terlatih mandiri sejak kuliah dan bekerja. Memutuskan untuk menikah lalu merantau adalah satu diantara tantangan yang harus kami hadapi sebagai pasangan suami istri, ditambah lagi suami banyak mewakafkan waktunya untuk bekerja. Pagi siang sore menjelang malam dihabiskan di kantor, belum lagi perjalanan pulang yang jaraknya terbilang jauh juga melelahkan. Alhamdulillah. Saya diberi kesempatan oleh Allah untuk tetap memberdayakan diri sebagai perempuan. Menulis di  blog ini  misalnya, ngonten video blog di kanal youtube  Ige Naya  atau  Kuliner Ige  sesekali. Pun untuk memantik kemampuan berbahasa inggris agar tetap tergunakan, saya buka juga lah Jasa terjemahan . Barakallah semoga bermanfaat bagi banyak orang. Oiya, semenjak menginjakkan kaki di Ra...

Being Mommy Isn't Easy

Perempuan. Sudah takdirnya punya hak istimewa. Keindahan lekuk tubuh dan kecanggihan alat reproduksi yang ia miliki menjadikan ia berbeda. Sebabnya, perempuan bisa menyetarai posisi laki-laki dalam mencari nafkah namun laki-laki tidak bisa menggantikan peran perempuan dalam mengandung, melahirkan, meyusui dan membesarkan anak-anaknya.  Saya pribadi pernah melewati lintasan orientasi satu, dua, tiga, empat.. hingga akhirnya ada di titik ini. Meniti jenis pengalaman ini itu, mencoba bekerja ini itu dan menikmati 24 jam saya sebagai perempuan yang mencoba berjuang di atas kaki sendiri. Kuliah sembari bekerja tentu bukan hal mudah. Ada tugas kampus yang tertumpuk, menunggu sesegera mungkin dituntaskan. Sela itu pula, ada kerjaan kantor yang tertunda, menuntut secepat kilat diselesaikan. Namun, dari kesulitan demi kesulitan itu masih ada jalan mudah untuk ditempuh. Contekan tugas dari teman yang budiman dan minta bantuan rekan kerja untuk mengambil alih pekerjaan. Dari kian lika liku pe...

Menikah, Merantau dan Makna Perempuan

Menjadi perempuan yang ditakdirkan hidup sebagai pendamping laki-laki yang mengharuskan dirinya merantau untuk menafkahi tentu tantangan tersendiri. Saya masih ingat betul bagaimana menjalani keseharian sebagai pelajar sekaligus pengajar di sebuah Institusi Pendidikan Tinggi, banyak mewakafkan waktu untuk belajar dan mengajar sebelum akhirnya melepas status single jadi married. Di titik ini, kondisi krisis menyapa dan saya harus menentukan pilihan hidup yang tentu saja saya telah dibuat paham resiko kedepannya. Menikah dan merantau adalah dua hal yang amat erat dan tidak bisa dihindari. Menikah dengan pasangan saya hari ini artinya saya telah siap menjalani kehidupan dengan dimensi baru yang Tuhan hadapkan untuk kami. Menjalani kehidupan dengan sabar dan penuh rasa syukur adalah kunci dari kian kejadian-kejadian yang bergantian. Sungguh. Saya adalah satu diantara perempuan-perempuan yang menaruh banyak harapan di dada tentang hal-hal yang baik di masa depan. Namun, pada kenyataan seben...

Kado Ulang Tahun pernikahan

Sebagian dari kita yang telah ditakdirkan menjadi sepasang suami istri tentu saja mendambakan kehadiran buah hati sebagai pelengkap cinta kita di dunia. Yang selanjutnya, dalam namanya kita sematkan doa-doa baik berharap diijabah Allah agar berselimut keberkahan. Termasuk kami pasangan suami istri yang pernikahannya telah terhitung 2 tahun tepat hari ini. MasyaAllah alhamdulillah. Kami tentu masih ingat betul bagaimana doa kami langitkan terus menerus. Dengan harapan, ia hadir setidaknya menjadi kado ulang tahun pernikahan kami. Sebab kami sadar penuh akan kondisi yang dihadapkan seperti apa kala itu. Ruwetnya, kami harus berjarak disaat pasangan lain memilih berbulan madu setelah menikah dan bersatu. Namun, takdir yang dijatuhkan seperti menyodorkan pilihan yang begitu sulit untuk dilewatkan. Nampak seperti kulit ayam, keluar dari lubang kewanitaan di bulan pertama resmi menjadi istri. Pikiran tentu saja kemana-mana, terlebih ini kali pertama mengalami. Kata kawan dokter, itu jenis se...

MEMAKNAI HIKMAH IED (IDUL) ADHA

Memasuki umur 8 tahun, saya masih ingat betul kala itu berhasil meletupkan tanya dari bibir pada ibu, yang lekat saya panggil 'mamak'. "Mak, untuk apa orang potong sapi atau potong kambing kalau lebaran Idul Adha?" Yang tentu saat itu, ikut hadir atau menyengaja berkunjung ke lokasi pemotongan hewan qurban seperti prestasi sendiri bagi anak seumuran kami.  "Tawwa beraninya liat darah..."  Sebatas itu penghargaan yang ditawarkan cuma-cuma dari kalangan dewasa. Namun dinilai luar biasa bagi (kami) yang baru saja duduk di Bangku es de. Kata mamak, potong kambing atau potong sapi di Hari raya itu untuk berbagi daging ke masyarakat setempat biar semua orang bisa rasakan makan enak. Selanjutnya, pertanyaan baru bermunculan yang pada dasarnya sama, sama-sama mempertegas pertanyaan sebelumnya. Dari pemahaman yang masih sangat dangkal ini, saya mencoba menarik beberapa kesimpulan bahwa memotong daging sapi atau kambing di Hari Raya adalah: 1) Momentum berbagi kepada ...

Jenis Penyakit Hati Akut dan Obat Paling Mujarab

  Manusia adalah mahluk sosial yang hidup berdampingan dengan mahluk lainnya. Saling menghormati, mendukung dan menghargai adalah kunci dari sebuah kerukunan dalam kehidupan. Hanya saja sebagian kita telah lupa satu hal  lagi yang paling penting diantara ketiganya, yakni berbaik sangka pada oranglain, jika satu hal ini tak begitu tegas maka tak ada artinya ketiga hal itu. Ada sebagian orang yang begitu mengindahkan kata: Maaf, tolong dan terimakasih. Tiga kata ini adalah representatif formal yang secara langsung (direct) menunjukkan bahwa kita adalah mahluk sosial yang menghormati dan dihormati, mendukung dan didikung, serta menghargai dan dihargai. Sesederhana itu sebagian orang memaknai cara-cara hidup bersosial. Namun, tak sedikit pula jenis orang yang tak begitu luwes lidahnya mengucap 3 kata itu, (jarang) terucap bahkan terkesan ia tak mengindahkan oranglain, bukan berarti kenyataan demikian, bukan? boleh jadi ia lupa atau bahkan memang menyengaja tak mengucapnya sebab d...

Tak Perlu Ada Iri Diantara Kita

  Hal yang paling melekat dalam diri manusia dan tak bisa lepas adalah rasa ingin lebih atau rasa tak puas diri. Sebenarnya hal ini bisa saja positif, namun tak banyak yang sanggup mengontrol ini dengan baik. Karena sejatinya, merasa puas itu tak baik jika porsinya terlalu. Mengapa? karena terlalu cepat puas menghadirkan energi negatif bagi diri sendiri; (1) merasa terlena dan tak ingin lagi melakukan hal lain, jatohnya malas, (2) menjadi bangga diri, memuji diri, besar kepala dan sedikit saja akan menampakkan kesombongan (3) tertinggal langkah yang lain, hingga usaha kita banyak terlampaui oranglain yang pada akhirnya melahirkan rasa iri di dalam hati (4) Menutup kesempatan untuk lebih mengembangkan potensi diri, sebab merasa cukup bisa saja membuat kita tidak bisa merambah ke bidang yang lain. N audzubillah mindzalik. Meski kita pun sama-sama paham bahwa rasa puas pun dibutuhkan untuk mengucap syukur atas apa yang Allah beri, pun bagian dari usaha berterima kasih p...